Dimana Tuhan Berada?

Nabi Elia hidup ribuaan tahun lalu sebelum masehi, tapi ia juga mengalami pergulatan yang nampaknya masih sangat relevan dan dekat dengan dunia kita. Ia berusaha menemukan dimanakah Tuhan berada.

Dalam gempa, api, bahkan angin besar pun Tuhan tidak ada. Saat itulah angin sepoi-sepoi basah berhembus. Elia langsung menyadari bahwa disanalah Tuhan ada. Lalu ia pun menutupi wajahnya dengan jubahnya karena ia sadar akan kehadiran Allah yang Maha agung.

Dari cerita pengalaman Nabi Elia ini, dapat dimengerti bahwa Tuhan hadir dalam keheningan, bukan dalam suatu pengalaman yang dashyat. Jangan mengharapkan Tuhan dapat seperti “customer Service” yang mampu membalas dan menjawab keluh-kesah dan kesulitan yang kita alami. Ia terkadang DIAM, dalam artian tidak ada perubahan apapun dalam diri kita. Seakan Tuhan tidak memperdulikan kita. Apa dampaknya kepada kita? Jelas kekecewaan bahwa saya tidak berharga di mata Tuhan. Bagaimana jika hal ini terjadi terus menerus dalam hidup kita? Mungkin dalam hidup kita, ada suatu permasalahan yang tidak ada habisnya bahkan tak terselesaikan.

Begitulah yang diterima Maria dengan jawaban Yesus: “Mau apakah engkau dari-Ku, ibu?” atau “Siapakah ibuku? Siapakah saudaraku?” Kedua jawaban yang terkesan lebih menyakitkan yaitu penolakkan. Atau contoh lain yaitu Perempuan dari Kanaan(Mat 15 : 21-28) yang mengalami penolakkan dari para murid bahkan Yesus sendiri.

 

Ibu-Nya(Maria) sendiri mengalami hal demikian. Apa yang membuat Maria tidak begitu saja kecewa dan putus asa? Ia yakin dan mengimani dengan sungguh bahwa pengalaman bertemu dengan Yesus adalah pengalaman akan Tuhan. Tuhan menjamah setiap orang dengan cara-Nya masing-masing. Ia menghendaki kita supaya berkembang dalam iman, walau dirundung masalah yang tak ada habisnya. Begitulah yang Yesus rasakan, penolakan dari bangsa Israel bahkan di kampung halamannya sendiri. Ia mnguji keimanan kita. Satu hal yang perlu kita imani yaitu bagaimanapun juga TUhan tetap menyertai kita bahkan disaat Ia terdiam sekalipun. Untuk merasakan kasih-Nya itu, keheningan menjadi kunci utama dalam mengahayati panggilan kita masing-masing, baik berkeluaga maupun imamat. Dan Tuhan mungkin tidak meringankan beban kita, masih terasa berat, tapi yakinlah bahwa dalam Tuhan ada kekuatan untuk melampaui bukit terjal di depan kita.

“Tuhan jangan pindahkan bukit di depanku, tapi berilah aku kekuatan untuk melewatinya…”

 

 

Christofer Edgar Liauwnardo