Sahabat Tetaplah Sahabat

 

Tiba tiba saja badanku terlempar ke samping dan kepalaku merasakan panas dan kasarnya aspal jalan itu lalu semuanya berubah menjadi gelap. Aku terbangun di sebuah tempa yang tidak ku kenal, aku merasakan kepala ku terasa sakit dan menemukan fakta bahwa kepalaku sedang diperban juga tanganku yang diinfus, akhirnya aku menyadari bahwa aku kini berada di rumah sakit. Aku memegang kepalaku dan berusaha mengingat apa yang barusan terjadi.

~~ | | ~~

Aku tak bisa merasakan tangan kananku lagi akibat harus memberi hormat kepada bendera. Kurasakan panas matahari perlahan-lahan membakar kulitku, “Sialan, sampe kapan harus begini sih?” ucapku dalam hati, namun aku tahu itu merupakan kesalahanku sendiri karna ketahuan membolos pelajaran. “Reza, sudah cukup. Kamu boleh pulang sekarang.” Ucap guru BK ku yang tiba-tiba muncul dari belankang ku, kata-kata itu membuatku senang, “Siap Bu!” jawabku dengan semangat dan aku menurunkan tanganku yang sudah mati rasa itu, aku segera berlari meninggalkan lapangan tanpa mempedulikan perinagatan dari guru BK ku yang mengancam jika aku membolos lagi.

 

Ku langkahkan kaki ku menuju kelasku, ku lihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 15.15, “Astaga, jam segini mati aku.” Aku harus segera pulang ke rumah karna aku tak mau tertinggal kereta lagi yang hanya datang 2 jam sekali dan kereta akan berangkat 15 menit lagi. Kaki ku terasa kaku karna harus berlari ke kelas ku yang berada di lantai 2 dan berada di ujung koridor. Kubuka pintu kelasku yang ku kira kosong ternyata ada seseorang di dalamnya yang sedang menatap keluar jendela. Aku mengenalnya, ya dia adalah orang yang kubenci saat ini, sahabatku. “Ngapain lu?” kata ku, “Nungguin lu selesai di hukum.” Katanya dengan santai dan aku tak suka itu. Ku ambil tas ku dan kutinggalkan dia yang sepertinya sudah tahu respon apa yang aku berikan untuknya.

 

Kebencian dan permusuhan aku memang tak suka seperti ini walaupun sepertinya hanya dari pihakku saja dan tampaknya dia memang merasa sangat bersalah saat dia hampir membunuhku dua bulan lalu dengan sengaja mendorongku ke jalan dan tepat saat itu truk melintas dan tangan kananku menjadi korbannya. Hal itu menyebabkan aku menderita patah tangan serius. Aku tak bisa memaafkannya dan sejak saat itu aku tak pernah menyebut namanya lagi, akupun menjauh darinya. Jam 15.20 sebentar lagi kereta tiba dan segera berangkat kembali, aku segera menuruni tangga dan segera berlari ke stasiun yang jaraknya dekat dengan sekolahku. Biasanya aku menaiki angkot tetapi sore hari lalu lintas menuju stasiun sangatlah padat terkadang macet total dan sekarang macet total sehinga aku memilih untuk berlari ke sana.

 

Lampu lalu lintas masih menunjukan tanda berhenti sehingga aku segera berlari menyebrangi jalan itu dan Teeeet…. Teeet…. sebuah truk melaju cepat tepat di sebelahku. Namun, tiba tiba saja tubuhku terlempar ke samping dan bersamaan dengan itu seseorang berteriak “Awas Ca!” setelah itu aku kehilangan kesadaranku

Kini aku mengingat semuanya dan aku tahu siapa yang menolongku karna hanya keluargaku dan sahabaku yang memanggilku dengan sebutan Caca. Ya orang itu tampaknya Ricky sahabatku yang membuatku hampir meninggal kini menolongku. Pintu ruangan perawatan itu terbuka dan ku lihat Ibu ku yang menangis sambil berjalan ke arahku. Ia membekapku di dalam pelukannya dan aku spontan saja bertanya, “Bu, Ricky mana?” akhirnya nama itu baru saja kusebut setelah 2 bulan yang lalu.  “Dia di ICU karna nolongin  kamu kemarin.” Kata Ibuku dan tampaknya aku juga baru sadar aku telah pingsan selama dua hari. “Bu, aku mau liha Ricky sekarang.” “ya, tapi hati hati kamu soalnya juga masih sakit.” Ibu mengijinkanku untuk melihatnya meskipun kondisiku begini, cara itu merupakan hal yang membuatku menjadi orang yang kurang suka dengan yang namanya kebencian. Aku menjenguknya dan melihatnya masih terbaring dengan bagian tubuh kanannya yang hampir seluruhnya remuk. Aku merasa bersalah atas kejadian itu. 2 hari kemudian aku diijinkan keluar rumah sakit, tiap-tiap hari aku mengunjungnya setelah pulang sekolah. Akhirnya seminggu setelah kejadian itu Ricky sudah sembuh dan sudah keluar dari ruang ICU. Aku meminta maaf kepadanya dan “brarti kita impas ya” itu kata yang keluar dari mulutnya dan aku segera menangis dan memeluknya karna itu tidak adil dan memang tidak adil, lalu aku bertanya padanya mengapa dia menolongku dan jawabnya, “Kitakan sahabat dan sekali sahabat tetaplah sahabat.” 2 bulan kemudian Ricky sudah keluar dari rumah sakit walau masih menerima berbagai pengobatan di rumah. Persahabaan kami yang dulu retak kini kembali merekat. Mungkin sesuatu iu tidak bisa kembali seperti semula namun bisa jadi hal itu menjadi semakin indah seperti persahabatanku dengan Ricky.