SEMINARI MENENGAH
SANTO PETRUS CANISIUS MERTOYUDAN

Ke Mana Aku akan Melangkah?

Entah ke mana angin menuntun langkah kakiku. Namun aku tidak akan berhenti, karena aku percaya Dia selalu menyertaiku.

Triiing… Triiing…Triiing “Ah, ada paket. Sebentar ya, aku ambil paket dulu,” kataku pada teman-temanku di game yang sedang aku mainkan. Bel rumahku berbunyi tiga kali, artinya ada paket. Jika berbunyi dua kali artinya ada tamu dan jika satu kali artinya ada saudara yang datang berkunjung. Keren bukan? Siapa dulu yang punya idenya. Bukan aku, melainkan kakak perempuanku, Ina namanya. Ia lebih tua satu tahun dariku. Sewaktu SMA, ia anak yang sangat populer. Tidak ada yang tidak kenal dengannya, berkebalikan denganku yang hanya memiliki teman hitungan jari. Prestasinya juga sangat mengagumkan. Kamarnya penuh dengan piala-piala yang pernah diraihnya sewaktu SMA. Namun aku tidak terlalu memedulikan itu, begitu juga orang tuaku, “Yang penting jadi anak baik,” kata ayahku pada suatu waktu.

Sampai di bawah, ternyata kakakku sudah mengambil paketnya terlebih dahulu. “Untuk siapa?” tanyaku. “Untukmu. Dari Tara nih,” balasnya sambil sedikit melemparkan paketnya kepadaku. “Lihat dong. Pasti romantis,” lanjutnya dengan nada memelas. “Hiiih, berisik kau,” teriakku sambil mengejarnya. Setelah ia masuk ke kamarnya kembali, aku juga kembali ke kamarku untuk mengamankan kiriman paket yang ditujukan khusus untukku. Sesampainya di kamar, aku tidak langsung membuka paketnya, melainkan meletakkannya di kasurku sembarangan dan melanjutkan permainan di komputerku.

Tak lama, hpku bergetar. Tara meneloponku. “Oi, buka paketnya dong, jangan hanya diletakkan di kasur lalu kau tinggal bermain.” Begitu kata terakhir diucapkan, ia langsung menutupnya tanpa memberiku kesempatan untuk bersuara. Tapi tak apa, memang begitulah tabiatnya dan aku sudah terbiasa dengan itu. Aku dan Tara saling mengenal sejak kecil. Ia lebih muda dariku setahun. Sejak TK sampai SMA, aku, kakakku, dan Tara selalu bersekolah di tempat yang sama. Di sekolah, Tara selalu melekat pada kakakku, dan entah mengapa kedua orang itu seperti bersekongkol untuk pura-pura tidak mengenalku. Beruntungnya aku tidak terlalu peduli akan hal itu.

Ada pepatah mengatakan “Diam-diam menghanyutkan”. Bagi banyak orang yang mengenal Tara, mungkin mereka merasa pepatah tersebut cocok dengan Tara. Memang harus kuakui prestasinya memang lumayan, apalagi dalam hal fotografi. Namun, bagiku Tara itu diam-diam merepotkan. Tidak terhitung berapa kali dia tiba-tiba muncul di depan pintu kamarku malam-malam ketika aku akan beranjak tidur dan memintaku untuk menjadi model fotonya. Aku juga sering terluka ketika menjadi model fotonya, dan ketika aku terluka, ia akan kabur selama beberapa hari. Salah satu contohnya ketika aku kelas 2 SMA. Ketika itu siang hari, kami ke sungai yang ada di dekat sekolah. Ia memintaku untuk berdiri di sebuah batu, yang sangat licin, di tengah sungai. Setelah selesai memotretku, aku beranjak untuk kembali ke tepi. Baru menggerakkan kaki sedikit, aku terpeleset dan terseret arus sungai sejauh kurang lebih seratus meter. Sejak saat itu, batang hidungnya tidak pernah kelihatan, di sekolah sekalipun, padahal di daftar kehadirannya tertulis jika ia masuk. Entah apa sihirnya, ia bisa menghilang dari pandanganku. Kakakku saja katanya sering bermain dengannya di sekolah. Seminggu kemudian, pukul 11 malam, ketika aku akan beranjak tidur, pintu kamarku diketuk secara lembut, yang berarti bukan kakakku. Dengan malas dan agak bingung, aku beringsut menuju pintu kamarku. Entah bagaimana caranya, Tara sudah berada di depan pintu kamarku. Matanya yang hitam nan indah berkilat-kilat memandangku penuh harap. “Ayo ke taman! Bintang malam ini sungguh indah,” ucapnya bersemangat. Entah mengapa, setiap dia mengajakku aku tidak pernah menolak. Sudah ratusan kali aku terluka ketika menjadi modelnya, namun aku tidak pernah merasa kapok.

Setelah ia menutup telepon aku langsung beranjak ke kasurku dan membuka paketku sambil menebak-nebak apa isinya. Sehabis SMA, Tara tidak melanjutkan kuliah, melainkan berkeliling dunia dengan kamera kesayangannya, tanpa memberi tahuku maupun kakakku. Sudah 6 bulan sejak Tara pergi. Pada 3 bulan pertama, ia rajin mengirim paket untukku dan kakakku yang isinya kebanyakan oleh-oleh dan hasil jepretannya. Namun, tiga bulan terakhir, ia tidak mengirim paket sama sekali. Katanya ada masalah dalam mengirim. Namun hari ini, tiba-tiba ada paket darinya, khusus buatku. Setelah kubuka, ternyata isinya tidak terlalu banyak. Masih banyak ruang kosong di kardus paket ini. Selembar foto yang sudah dibingkai. Ada Tara di depan Menara Pisa yang tersenyum lebar di foto itu, sambil mengenakan sweater putih dan rok warna krem sampai di bawah lutut. Barang kedua adalah sebuah box yang tidak terlalu besar, namun agak berat. Setelah kubuka, ternyata isinya kamera dan sebuah surat. “Surat? Bukankah Tara tidak pernah mengirim surat?” tanyaku dalam hati sembari membuka surat tersebut.

Aku bingung bagaimana kau bisa mengurung dirimu dalam kamarmu selama liburan, sementara aku di sini terus berjalan mengabadikan momen-momen yang tidak setiap hari dapat kulihat. Jadi, di hari yang spesial ini, terutama bagimu, aku ingin mencoba sepertimu. Mengurung diri dalam sebuah kamar hotel di Pisa, Italia, ini dan kau harus menjemputku agar kita bisa bertemu kembali. Eits, namun untuk menjemputku kau harus melakukan hal yang hampir sama sepertiku. Gunakan kamera yang kamu dapatkan itu. Aku ingin kau datang dengan membawa setidaknya foto dirimu yang sedang berada Jepang, Tiongkok, dan Russia, sekalian aku ingin melihat betapa payahnya kau dalam menggunakan kamera. ~Tara

“Hari yang spesial bagiku? Apa maksudnya? Menjemputnya ke Italia? Aneh sekali anak satu ini,” kataku dalam hati. Begitu selesai mengatainya, telepon genggamku langsung bergetar. Tara meneleponku lagi. “Selamat ulang tahun, Pelupa. Kau pasti lupa dengan hari ulang tahunmu sendiri bukan?” katanya dengan ketus begitu teleponnya kuangkat. Benar juga, hari ini adalah hari ulang tahunku. Sial, aku tidak tahu harus menjawab apa. “Uhh,” balasku. “Dasar pelupa. Cepat kau bereskan barangmu dan jemput aku,” lanjutnya. “Baik tuan putri,” jawabku. “Dasar.”

Pagi-pagi keesokan harinya, aku langsung berangkat. Sialnya, kakakku keras kepala ingin mengantarku ke bandara. Katanya mau melihat adiknya pergi untuk menjemput pujaan hatinya. Beruntung pesawatku tidak delay, sehingga aku bisa cepat-cepat meninggalkan kakakku yang tidak bisa diam itu. Tujuan pertamaku adalah Tiongkok yang malamnya langsung ke Jepang. Di pesawat, kesialan tidak kunjung pergi. Orang di sebelahku adalah seorang bapak tua botak berbadan besar dan… bau. Puluhan kali aku ke toilet untuk menghindar darinya yang entah mengapa sejak berangkat ia tak bergerak. Sabuknya pun tidak dilepas. Akhirnya, setelah penantian yang rasanya tak kunjung selesai, aku tiba di Tiongkok. Apa yang tuan putri Tara minta? Ah, benar hanya bukti bahwa aku di Jepang, Tiongkok, dan Russia.

Pesawatku berikutnya masih pukul sebelas malam. Masih ada waktu beberapa jam bagiku untuk berjalan-jalan keliling kota. Karena aku sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kota ini, juga tidak memiliki kenalan, jadi aku mengikuti ke mana kaki ini melangkah. Pukul sembilan malam, aku hendak berangkat ke bandara, setelah satu jam merenung di sebuah kafe. Di perjalanan aku berniat untuk membuat video, sekaligus sebagai bukti bahwa aku benar-benar sampai ke Tiongkok. Tiba-tiba ada segerombol wanita usia kisaran 23-25 tahun yang datang mengelilingiku dan berbicara dalam bahasa Mandarin yang aku tidak mengerti. Jadi aku hanya mengangguk-angguk saja dan mengatakan yes yes hingga akhirnya mereka pergi. Sampai di bandara, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Aku langsung membersihkan diri dan mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Pukul 22.50, aku sudah berada di dalam pesawat yang akan membawaku ke Jepang. “Hari yang melelahkan,” gumamku.

Pukul sebelas malam, pesawatku berangkat. Syukurlah kali ini tidak ada bapak-bapak botak yang bau di sebelahku. Setelah kira-kira dua jam perjalanan, pukul 01.25 dini hari, aku sampai di Tokyo, Jepang. Suasana negeri sakura yang biasanya hanya kulihat lewat monitor komputerku kini dapat aku rasakan secara nyata. Karena tidak tahu harus ke mana, jadi aku tidur di bandara saja. Pukul lima pagi, aku ingin berjalan-jalan di sekitar bandara. Baru lima belas menit, aku bosan, jadi aku memutuskan untuk duduk-duduk sambil memotret pesawat-pesawat yang bergantian lepas landas dan mendarat, namun aku akhirnya ketiduran. Pukul delapan pagi, aku terbangun dan tanpa menunggu lagi, aku langsung keluar bandara dan mencari restoran ramen, karena aku lapar. Setelah sekitar 15 menit berkeliling, akhirnya aku memutuskan untuk mengantre di sebuah restoran ramen. Ketika mengantre, aku teringat jika aku memiliki teman online yang berasal dari Tokyo, aku biasa memanggilnya Shiga. Tanpa berpikir lama, aku langsung menghubunginya lewat pesan, namun dia tidak langsung membalasku. Setelah aku masuk ke restoran lima belas menit kemudian, akhirnya dia baru membalas pesanku. Katanya sedang makan ramen, lalu ia mengirimkan foto restoran tempat ia sedang makan. Terkejutlah aku seketika setelah aku melihat foto tersebut. Aku berada dalam foto yang dia kirim. Kami satu restoran. Setelah makan, Shiga mengajakku berkeliling Tokyo, juga mengajakku ke Tokyo Skytree. Kami banyak berfoto-foto di sana, sekalian sebagai bukti bahwa aku benar-benar ke Jepang. Setelah itu, kami berkeliling lagi, dan yang paling kusuka adalah kulineran, sampai makan siang. Toh, pesawatku yang ke Russia masih besok pagi pukul 8. Awalnya, aku berencana untuk mencari penginapan setelah makan ramen, namun ternyata Shiga memberiku tempat di rumahnya yang berada agak di pinggir Tokyo. Hari itu terasa berlalu dengan cepat. Setelah berkeliling dengan Shiga, kami ke rumah Shiga dan menghabiskan waktu sampai malam di rumahnya dengan bermain atau menonton film, sambil sesekali ke minimarket. Pukul sepuluh, aku tidur duluan.

Keesokan paginya, aku bangun pukul enam. Entah Shiga tidur atau tidak, namun dia sudah berkutat bersama layar monitornya lagi, namun dia tampak cukup segar. Setelah bersiap-siap, aku berangkat ke bandara diantar oleh Shiga pada pukul tujuh. Lalu pada pukul 07.50, aku sudah berada di dalam pesawat yang akan membawaku ke Moskow, Russia.

Sampai di Russia, waktuku tidak banyak. Aku hanya memiliki waktu satu jam sampai penerbangan ke Pisa, Italia. Jadi sebagai bukti aku pernah di Russia, aku hanya memotret beberapa tempat di dalam bandara. Setelah itu, aku memberi kabar kepada Tara bahwa aku sudah sampai di Moskow dan akan terbang ke Pisa. “Hei, Tara, aku sudah sampai di Moskow. Tidak lama lagi akan ke Pisa. Perjalannya akan memakan waktu sekitar lima jam. Kau ada di mana?” tanyaku begitu dia mengangkat telepon dariku. “Kau cepat juga ya. Jangan lupa barang buktinya. Tunggu saja di bandara, nanti kau pasti akan menemukanku,” balasnya. Seperti biasa, dia langsung menutup teleponnya tanpa memberikanku kesempatan berbicara. “Baiklah, ikuti saja apa katanya,” kataku dalam hati.

Akhirnya, pesawatku berangkat. Namun, dalam waktuku yang singkat, aku sempat pergi ke sebuah minimarket untuk membeli sesuatu. Seperti biasa, aku hanya mengikuti ke mana angin menuntun langkah kakiku, dan sampailah aku di sebuah minimarket. Ketika akan kembali ke bandara, ada hal yang tidak terlalu mengenakkan. Aku melewati jalan yang sama, namun kali ini jalan tersebut sangat sepi. Ketika sudah setengah jalan, ada seorang bapak berbadan besar yang tiba-tiba keluar dari sebuah perempatan di dekat tempat aku berjalan. Ketika jarak kami sudah dekat, ia tiba-tiba berjalan ke arahku sambil mengeluarkan sebuah palu dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Rusia yang aku tidak mengerti. Tak lama setelah itu, dia mengangkat palunya ke udara seperti akan memukulku. Tanpa berpikir lama, aku langsung lari sekencang mungkin tanpa menoleh ke belakang. Setelah sekitar satu menit berlari, akhirnya bapak yang sepertinya mabuk itu sudah tidak kelihatan lagi. Sepuluh menit kemudian, aku sudah masuk ke dalam pesawat dengan masih ada ketakutan diikuti. Namun, nampaknya perjalanan ini akan baik-baik saja. Orang yang duduk di sebelahku syukurlah tidak terlalu buruk. Anak muda berusia sekitar 22 tahun yang tidak banyak bicara.

Setelah tidur entah berapa lama, aku dibangunkan oleh salah seorang pramugari. Katanya pesawat tidak lama lagi akan mendarat. 15 menit kemudian, aku sudah bisa melihat bandara di bawah sana. 10 menit kemudian pesawatku sudah mendarat dan aku menjadi orang yang pertama kali keluar dari pesawat saking tidak sabarnya mencari Tara, padahal entah dia ada di mana. Teleponnya mati, jadi aku memutuskan untuk keluar dari bandara saja, meski saat ini masih dini hari. Sembari berjalan mengikuti petunjuk, mataku menyapu ke sana-kemari, namun tetap saja aku tidak menemukan Tara. Ketika sudah hampir sampai di pintu keluar, mataku tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk diam di sebuah bangku yang agak jauh dariku, seperti menunggu seseorang. Entah mengapa, aku merasa tidak asing dengan orang tersebut. Karena aku belum bisa melihat wajahnya dengan jelas, maka aku mulai mendekatinya secara sembunyi-sembunyi. Setelah akhirnya jarakku cukup untuk melihatnya dengan jelas, aku kaget dan seketika itu juga mengeluarkan sebuah benda dari tasku. Sebuah foto seseorang. Foto Tara ketika ia berfoto di depan menara Pisa. Tidak salah lagi, itu pasti dia. Ia mengenakan pakaian sama dengan yang ada di foto yang kupegang. Sweater putih dengan rok panjang berwarna krem, ditambah… sandal jepit. “Tara?” Ia menoleh yang disusul dengan senyumannya yang manis. Tanpa disuruh, ia pun berlari ke arahku dan memelukku sangat dalam. “Dasar anak nakal yang sangat merepotkan,” kataku sambil mencubit hidungnya, yang dibalas dengan senyuman nakal darinya. “Sesuai permintaanmu, aku sudah menjemputmu dan mengunjungi negara-negara yang kau suruh. Foto-fotonya ada di dalam tasku. Sekarang, berjanjilah padaku kau tidak akan meninggalkanku lagi,” lanjutku. “Baiklah, aku berjanji, Ngomong-ngomong bagaimana perasaanmu mengenai perjalanan yang telah kau lalui?” tanyanya. “Asal kau tahu, sewaktu aku di Rusia, aku sempat dikejar oleh seorang bapak tua mabuk dengan palu. Masih beruntung aku selamat. Juga ketika di Tiongkok, sewaktu membuat video, tiba-tiba empat wanita muncul entah dari mana dan langsung mengerumuniku sambil mengatakan sesuatu ke kameraku,” jawabku. “Benarkah?” tanyanya sambil cekikikan. “Kau boleh melihat videonya nanti. Namun aku bersyukur karena bisa melihat dunia yang sebelumnya belum pernah kulihat. Juga mengalami hal-hal menarik yang tidak pernah aku duga. Terima kasih telah memaksaku untuk tidak langsung menjemputmu, melainkan berhenti di beberapa negara. Terima kasih karena telah mengelurakanku dari zona nyamanku. Sungguh, terima kasih atas segalanya.”