Kemerdekaan untuk Mau Bertindak Baik

Kliev R.T. Simamora II   Seminaris Tahun Ketiga

IMG-1009

(Dok. Winu)

MERTOYUDAN, JENDELA - Riuh kemerdekaan memenuhi lapangan sepak bola Seminari Menengah Mertoyudan pada Rabu (17/8). Seluruh warga komunitas Seminari Mertoyudan mengadakan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Negara Republik Indonesia. Upacara kali ini memberikan kesan yang berbeda dari upacara-upacara tahun sebelumnya, karena mengikuti konsep upacara di Istana Merdeka.

Rangkaian perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia diawali dengan misa harian yang dipimpin oleh Rm. Victorianus Palma dan diikuti oleh seluruh seminaris. Misa harian itu juga dirayakan untuk mendoakan keberlangsungan dinamika bangsa dan Negara Republik Indonesia yang memperingati kemerdekaannya. Bacaan Injil yang diperdengarkan menekankan soal bagaimana menjadi orang yang mau merdekadari dosa. Bacaan Injil juga mengajarkan seminaris untuk merdeka dalam berbuat kebaikan bagi sesama serta menjalin relasi dengan Tuhan.

Setelah melaksanakan misa, Upacara memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia pun dilangsungkan. Upacara Bendera ini dimeriahkan oleh tim Paskibra yang baru dibentuk oleh pihak sekolah beberapa bulan yang lalu. Tim Paskibra ini merupakan pasukan angkatan pertama di Seminari Mertoyudan. Kendati masih dalam proses pembelajaran untuk menjadi pasukan pengibaran bendera, pasukan tersebut sudah memberikan kesan yang baik bagi para staf, guru, dan seminaris, yaitu untuk lebih menjunjung sikap nasionalisme dan patriotisme.

“Belajar dari pengalaman, para seminaris sekiranya masih dipandang kurang dalam penugasan ketika hendak melaksanakan Upacara Bendera. Dapat dilihat dari cara dan khidmat mereka ketika melaksanakan upacara bendera,” ujar Benediktus Wahyu, koordinator Paskibra Seminari Mertoyudan.

Sebagai generasi muda, banyak sekali faktor yang menyebabkan mereka kurang memiliki jiwa nasionalis, salah satunya adalah fenomena globalisasi. Fenomena globalisasi yang merebak di tengah-tengah kalangan anak muda sangat mempengaruhi cara pandang mereka terhadap pemerintah dan negara saat ini. Selain itu, globalisasi membuat mereka sibuk dengan produk-produk era globalisasi saat ini saja. Hal itu mengembangkan sikap tidak peduli anak muda terhadap realitas bangsa dan negara saat ini.

Pihak staff dan guru tidak menutup mata akan kemunduran ini. Agar dapat menumbuhkan semangat nasionalis dan jiwa patriot para seminaris, dicanangkan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), pleno kebidelan medan dan OSIS, PASKIBRA, aksi donor darah, dan lain sebagainya.

Bela Negara dan Persaudaraan

Selain mengadakan upacara, Seminari juga mengadakan kegiatan kepramukaan bagi seminaris berupa Upacara Malam Ulang Janji. Acara ini dilaksanakan di lapangan sepak bola Seminari Mertoyudan pada Minggu malam (14/08) yang bertepatan dengan Hari Kelahiran Pramuka Indonesia. Upacara ini dimeriahkan dengan penyalaan api unggun serta tampilan dari masing-masing angkatan

“Memang benar, para seminaris sudah melaksanakan kegiatan kepramukaan dengan menjaga persaudaraan dan merawat alam sekitar. Akan tetapi, kegiatan kepramukaan ini deperlukan untuk menjadi tolok ukur apakah (seminaris) benar-benar menghidupi semangat mencintai alam sekitar dan persaudaraan terhadap sesama, serta meningkatkan sikap cinta akan tanah air yang memberikan makanan dan minuman sehingga para seminaris masih dapat hidup dan berformasi di Seminari ini,” kata Wahyu yang juga merupakan Pembina Pramuka di Seminari Mertoyudan.

100% Katolik 100% Indonesia

Malam sebelum pelaksanakan Upacara Kemerdekaan NKRI yang ke-77 tahun, para seminaris yang tergabung dalam ekstrakurikuler teater mementaskan drama yang terinspirasi dari kisah hidup Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Drama yang sarat akan makna ini menjadi bahan refleksi bersama sebelum memasuki Hari Kemerdekaan Indonesia.

Para pemain teater Seminari Mertoyudan mengajak para seminaris untuk memaknai diri sebagai umat Kristiani yang memiliki sikap nasionalis. Katekismus Gereja Katolik juga mengatakan bahwa “kewajiban warga negara ialah bersama para penjabat mengembangkan kesejahteraan umum masyarakat dalam semangat kebenaran, keadilan, solidaritas, dan kebebasan…….” (KGK 2329). Walaupun dalam pembawaanya masih belum optimal, para pemain teater sudah memberikan suatu kesan yang baik kepada para penonton. Selain itu, nilai yang hendak disampaikan dalam drama itu sudah mengenai hati seluruh penonton.

“Adegan dari setiap peristiwa yang dibawakan sangat menarik, akan tetapi keterhubungan setiap adegan perlu diperbaiki agar lebih memberi warna dalam pembawaanya,” ucap Hartman, seminaris tahun ketiga.

Makna dari perkataan Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J. yang berbunyi, ”100% Katolik 100% Indonesia”, membawa seminaris untuk merefleksikan kewajiban yang mengalir dari rasa syukur bahwa Tuhan telah memberikan tanah air Indonesia sebagai rahim yang mengandung dan merawat seminaris hingga saat ini.

“Oleh karena itu, yang menjadi tantangan bangsa saat ini adalah memerdekakan diri dari belenggu ketakutan. Kita perlu berani gagal agar mampu belajar dan berefleksi untuk menjadi semakin kuat,” ujar Rm. Yupilustanaji dalam pidatonya sebagai Pembina Upacara Hari Kemerdekaan NKRI di lapangan sepak bola Seminari Mertoyudan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.