SEMINARI MENENGAH
SANTO PETRUS CANISIUS MERTOYUDAN

Peka Atau Pekok

Oleh : Y.M.

Edoardo Bagaskoro Mikael

Seminaris Tahun Ketiga

Hai! Namaku Peter. Aku bersekolah di salah satu sekolah asrama putra ternama di Indonesia. Tempat yang dingin ini dikelilingi oleh banyak gunung. Hal ini membuat suasana di sini terasa begitu nyaman. Secara fisik, asrama ini adalah tempat sempurna untuk menjadi tempat pengasingan.

Setiap pagi asramaku mengadakan upacara keagamaan dari salah satu agama. Maklumlah, mayoritas teman-temanku menganut agama tersebut. Sisanya? Sisanya tidak beragama (paling parah, tidak percaya Tuhan). Kami melakukan upacara tersebut setiap pagi. Ada teman-temanku yang menjalaninya dengan serius, ada yang setengah hati, dan ada yang hanya formalitas saja. Aku sendiri seringkali melihat upacara keagamaan tersebut sebagai waktu yang tepat untuk menyambung mimpi tadi malam. Benar. Aku berkontemplasi setiap pagi: duduk dengan mata terpejam dalam posisi meditasi (terkadang sambil mendengkur).

Aku punya cerita tentang seorang teman. Namanya Ayodya. Seringkali ia terpanggil “Dia”. Dia adalah kamu yang “terpanggil” di asrama. Dia adalah orang yang duduk paling depan saat upacara keagamaan, membawa kitab suci dan buku doa. Dia datang paling awal dan pergi paling akhir. Sungguh sangat berlawanan denganku. Tapi tidak apa, ada satu hal yang membuatku diuntungkan dengan datang paling akhir dan pulang paling awal: sarapan lengkap nasi, sayur, dan lauk.

Sarapan adalah hal yang jarang didapatkan oleh dia. Maklumlah, dia selalu keluar dari tempat ibadah lima belas menit sebelum pelajaran jam pertama dimulai. Terkadang dia didahului oleh teman-temanku yang lain, yang sudah sarapan namun ingin makan siang lebih awal. Alhasil, dia sering kulihat hanya memakan nasisayur. Sayur yang dia makan pun tidak pernah sayur yang enak. Dia tidak akan tau rasanya makan sayur cap cay karena sayur cap cay akan habis dua sampai tiga kali lebih cepat dari sayur lain. Terkadang aku juga melihat dia hanya makan nasi. Hanya nasi! “Pasti dia bisa menghadapi masa prapaskah jauh lebih mudah dari aku dan teman-teman yang makan siang lebih awal!” kataku kepada diriku sendiri.

Yang paling membuatku bingung adalah reaksinya. Dia begitu tenang ketika tau bahwa dia hanya akan makan nasi saja atau nasi sayur untuk sarapan. Kalau aku? Aku bahkan bisa langsung membanting temanku bila aku tidak mendapat lauk. Aku pernah melakukannya sekali, kuharap tidak perlu lagi. Terkadang aku berpikir, apakah dia bisa mendapat asupan nutrisi dari doa yang dia lakukan hampir setiap saat itu? Tentu tidak. Aku pernah mencobanya tapi asam lambungku malah kambuh. “Apakah aku kurang beriman?” Akhirnya aku bertanya kepadanya,

“Gimana caramu bisa makan nasi doang, bjir. Nggak laper apa?”

“Ya enggaklah. Kan nasi bikin kenyang,” jawabnya.

”Nggak pengen makan lauk sama sayur gitu? Ya… meskipun di sini sayur sama lauknya mirip sama di pengungsian sih.”

Pertanyaanku dijawab dengan tawanya yang menggelegar. Dia pergi meninggalkanku yang masih binggung. Apa yang lucu? sayurnya beneran mirip pengungsian woy!

Kemarin aku memutuskan untuk menjadi “Sherlock Holmes” sejenak. Aku terus mengikutinya untuk sehari. Bagaimanapun rasanya. Aku duduk lama, menunggu dia selesai berdoa (sial sekali, pantatku mati rasa saat aku berdiri dari kursi). Aku makan paling akhir setelah dia. Kami hanya mendapat nasi putih karena hari ini sayur cap cay dan tahu bacem. Teman-temanku sudah menikmati makan siang mereka di jam istirahat. Sedih sekali. Siangnya aku tidak tidur siang hanya karena ingin mengawasi dia yang setiap hari tidak siesta. Malam hari pun sama. Aku tidur pukul 00.30 karena duduk selama itu di bangku hanya untuk mengawasi dia.

Aku tidak menemukan apapun yang aneh kemarin. Aku sedikit kecewa. Cap cay, tahu bacem, dan jam tidurku terbuang sia-sia. Namun, akhirnya hari ini aku mendapat petunjuk. Dia tidak sekolah karena sakit. Asam lambungnya kambuh sehingga dia harus berada di ruang kesehatan untuk beberapa waktu. Apakah aku seterkutuk itu sampai dia sakit setelah seharian kudekati?” batinku. Namun, ternyata aku juga harus menemani dia di ruang kesehatan karena asam lambungku juga kambuh.

“Kok kamu ke sini?” tanya dia.

“Asam lambungku kambuh gara-gara kemarin ngikutin kamu terus,” jawabku.

“Buat apa ngikutin terus?”

“Aku mau tau caranya kamu tetep bisa menghadapi semua ketidakadilan yang terjadi ke kamu. Siapa tau aku juga bisa jadi kuat kayak kamu. Eh malah gini hasilnya.”

“Aku sebenernya juga nggak kuat loh. Sejauh ini aku cuma nerima dan nerima aja. Eh aku udah nggak kuat dan hari ini ambruk, hehe…” jawaban dia ini menutup percakapan kami. Kami minum obat lalu tertidur.

Setelah kami sembuh dan keluar dari ruang kesehatan, aku tidak lagi mengikuti dia. Dia kembali ke pola “datang paling awal dan pulang paling akhir” dan aku kembali ke pola “datang paling akhir dan pulang paling awal.” Bedanya, untuk kali ini dan seterusnya aku akan mengambilkan sarapan untuk dia. Aku hanya bisa berharap sarapannya tidak lagi diambil oleh teman-temanku yang doyan makan siang prematur.

Mungkin aku terlalu utopis dengan berharap bahwa semua orang akan bisa mengatur nafsunya dan bisa peka kepada orang lain. Namun aku benar-benar berharap ini akan terjadi suatu saat nanti. Semoga tidak ada lagi teman-temanku yang melupakan “kaum pendoa” demi memuaskan nafsu perut mereka.