Sinergi Positif Menuju Kemerdekaan Bermedia

Christoforus Iuliano Mesaroga Putra   II   Seminaris Tahun Ketiga

            KEMAJUAN teknologi menciptakan ruang maya yang disebut media sosial. Orang yang hidup pada zaman ini rasanya sudah tak asing lagi dengan ruang maya ini, serta dimudahkan dalam berbagai bidang oleh kemajuan teknologi digital. Perkembangan dan kemajuan teknologi ini tak luput dari perjalanan sejarah yang cukup panjang.

            Manusia adalah makhluk yang selalu ingin memperjuangkan eksistensinya. Manusia mau terus berpikir dan mengembangkan produktivitas dirinya untuk mencapai sebuah kemajuan. Kemajuan teknologi digital yang meliputi munculnya alat-alat elektronik, media sosial serta segala kecanggihannya membawa manusia pada kemerdekaan. Kemerdekaan yang muncul adalah kemerdekaan dalam belajar, berkarya dan berkolaborasi. Manusia saat ini dihadapkan pada ruang tanpa batas yang terdiri atas berbagai pengetahuan, eksplorasi karya, serta aksi-aksi solidaritas yang muncul.

            Cogito Ego Sum yang diungkapkan oleh Descartes menjadi titik beratnya. Proses berpikir itu membawa pada produktivitas diri. Pada kenyataannya tidak semua pengguna media digital mengetahui maksud poin ini dan mengaplikasikannya. Manusia berhenti pada fase menikmati kemajuan yang ada tanpa berpikir apa yang dapat dilakukan ke depannya. Generasi milenial mengambil peran besar dalam hal ini.

            Saat ini Indonesia memiliki 132 juta pengguna internet yang aktif atau sekitar 52% dari jumlah penduduk yang ada. Dari jumlah pengguna internet tersebut, ada sekitar 129 juta yang memiliki akun media sosial yang aktif dan rata-rata menghabiskan waktu 3,5 jam per hari untuk mengonsumsi internet melalui gawai. Data ini menunjukkan bahwa sudah sebagian besar penduduk Indonesia adalah pengguna aktif teknologi digital serta media sosial. Dengan semakin dahsyatnya pengaruh kemajuan teknologi, tanggung jawab yang diemban semakin besar pula.

            Kini, perkembangan teknologi informasi dengan segala konskuensinya sedang tumbuh dan berkembang sangat deras. Peradaban ini, menurut Toffler (1980), membawa gaya baru terhadap hampir semua aspek kehidupan manusia. Peradaban itu telah dan akan mengubah cara kerja, cara bergaul, cara bercinta, dan sebagainya pada semua lapisan masyarakat. Diakui atau tidak, masyarakat Indonesia telah terbawa oleh arus peradaban informasi itu.

            Munculnya sebuah kesadaran semu menjadi sebuah problematika yang ada. Kesadaran semu adalah kondisi dimana kita tahu dan sadar akan apa yang seharusnya kita lakukan, tetapi tidak kita lakukan. Salah satu contoh konkretnya adalah kita tahu bahwa bermain game terlalu lama dapat merusak mata, namun kita tetap melakukan itu. Produktivitas diri yang ingin diperjuangkan beralih menjadi eksploitasi diri. Problem ini semakin lama semakin larut dan dianggap lumrah. Penyebabnya bukan rendahnya pengetahuan, melainkan tekanan waktu yang membuat orang tidak berpikir panjang serta hasrat konsumerisme manusia yang terus menerus dimanjakan.

            Lingkungan sekolah, keluarga, bahkan agama punya berperan penting dalam mengatasi permasalahan tersebut. Perlu ditekankan bahwa yang diperlukan saat ini adalah kualitas sumber daya manusia, bukan kuantitasnya. Manusia tidak digoda untuk canggih dalam banyak hal, untuk tahu banyak hal, tetapi diajak untuk mencapai sebuah kedalaman bertindak.

 Salah satu tokoh beragama Katolik pernah mengatakan, “Jarak terjauh di bumi adalah jarak antara pengetahuan (knowledge) dengan kebijaksanaan (wisdom).” Manusia memahami betul teknologi, namun cukup sulit untuk mencapai sebuah kebijaksanaan bertindak. Kaum muda saat ini perlu sinergi positif menuju kemerdekaan bermedia yang sesungguhnya

            Sinergi positif pada beberapa elemen hingga saat ini pun masih cukup lemah. Cukup marak problematika penyalahgunaan bermedia dari pemerintah dan tokoh-tokoh berpengaruh dalam masyarakat, terlebih dari kalangan selebritas. Dalam berpikir dan bertindak, manusia perlu mengandalkan sinergi positif dari luar berupa keadaan sekitar, serta sinergi positif dari dalam yaitu sikap lepas bebas dari dalam diri. Sinergi sendiri memiliki makna suatu gerakan melangkah ke depan untuk menghasilkan sesuatu yang baik dengan melampaui keadaan yang ada. Sinergi positif berupa pendidikan formal di sekolah maupun informal dirasa penting, termasuk teladan yang baik dari tokoh publik harus terus diperjuangkan.

            "Perkembangan teknologi informasi yang pesat tersebut harus betul-betul kita arahkan, kita manfaatkan ke arah yang positif, ke arah untuk kemajuan bangsa kita. Untuk menambah pengetahuan, memperluas wawasan, menyebarkan nilai-nilai positif, nilai-nilai optimisme, nilai-nilai kerja keras, nilai-nilai integritas dan kejujuran, nilai-nilai toleransi dan perdamaian, nilai-nilai solidaritas dan kebangsaan," kata Presiden Joko Widodo dikutip dari laman Setkab.go.id.  Senada dengan itu, semua para tokoh publik, masyarakat umum, secara khusus para pemuda didorong untuk maju bersama. Saat kita selalu menoleh dan melihat keburukan sekitar maka kita tak akan pernah bisa bangkit. Sinergi positif tetap perlu diolah secara personal. Kita tidak bisa terus mengandalkan pemerintah, para tokoh publik, pendidikan formal dan lainnya. Kita bisa mulai dari masing-masing individu.

            Lantas sebetulnya sinergi ini mau membawa pada sebuah kemerdekaan yang seperti apa? Kemerdekaan punya definisinya masing-masing. Kemerdekaan dalam konteks ini tentu sebuah kebijaksanaan dalam menggunakan ruang tanpa batas yang diciptakan oleh kemajuan teknologi. Inilah yang akan menjadi modal bagi setiap individu secara khusus para pemuda sebagai masa depan bangsa untuk ikut maju bersama derap era digitalisasi ini dan mewujudkan cita-cita yang disebutkan di awal.

            Masa ini merupakan masa transformasi yang penting. Pandemi menghadapkan pada kenyataan yang sesungguhnya. Kenyataan inilah yang perlu terus kita perbaiki agar menjadi sebuah kenyataan yang baik sebagai sinergi positif pada generasi penerus bangsa. Dibutuhkan sebuah kualitas berpikir bukan hanya kuantitas. Kemajuan teknologi saat ini tidak perlu sepenuhnya dianggap negatif dan menghilangkan kepercayaan masyarakat pada kemajuan ini. Masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda harus berprikir kritis, didorong oleh keinginan akan adanya kesinambungan relasi dalam pikiran serta kebijaksanaan dalam bertindak.

            Keterlambatan memahami arti terdalam dari kemajuan teknologi yang ada terkait erat dengan kehidupan dan kelestarian lingkungan. Masa pandemi tak hanya menguji daya tahan tubuh seseorang, melainkan juga menguji bagi daya pikir individu dan komunal masyarakat zaman ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.